London Akan Beri Sanksi Mobil Tidak Ramah Lingkungan

Bogor, 6 Agustus 2014

Upaya untuk mengatasi macet dan polusi udara di Eropa bukan sekedar wacana. Di London, kebijakan ini akan diterapkan. Pemerintah akan mengambil sikap tegas untuk kendaraan yang menghasilkan emisi lebih dari 75 g/km.

Untuk masuk ke pusat kota, kendaraan kategori tersebut akan dikenakan biaya masuk sebesar 10 poundsterling atau sekitar Rp 191 ribu (kurs Rp 19775 per US$). Saat ini, biaya sebesar 11,5 poundsterling atau sekitar Rp 227 ribu per hari telah dikenai untuk kendaraan yang dinilai telah melanggar ambang batas emisi. Sebaliknya, kendaraan bermesin solar yang telah memenuhi standar emisi EURO 6 tidak akan dikenakan biaya masuk.

Laman Carscoops, Senin (4/8/2014), melansir bahwa, Walikota London, Boris Johnson yang punya ide tersebut. Ia ingin menerapkan Ultra Low Emission Zone (ULEZ) atau zona rendah emisi di tahun 2020 mendatang. Saat ini, pihaknya sedang melobi pemerintah untuk menyesuaikan ulang pajak kendaraan diesel. Ia berharap, hal ini dapat mendorong pengendara untuk beralih ke kendaraan yang ramah lingkungan. Peraturan yang sama juga akan diberlakukan untuk kendaraan dengan mesin bensin tahun pembuatan sebelum 2006. Kendaraan dengan standar emisi dibawah EURO 6 akan dikenakan bea masuk untuk menekan angka kemacetan di London. Saat ini, tercatat sebanyak 30 juta unit kendaraan bermotor terdaftar di Inggris. Sepertiga dari jumlah kendaraan tersebut teregistrasi dengan mobil bermesin diesel.

Akan tetapi, kebijakan ini akan menemui banyak kendala. Karena kendaraan yang masuk golongan tersebut didominasi oleh angkutan umum, mulai dari bus, taksi, dan truk. Kebijakan ini juga dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas UKM. Sebab, usaha rintisan di London masih banyak menggunakan kendaraan lawas untuk operasional sehari-hari. Oleh karena itu, pemerintah kota London diminta untuk mengkaji ulang kebijakan bea masuk tersebut agar tepat sasaran.

 

Sumber: liputan6.com (050814)

 

-AY-