Dana $10 Miliar Dijanjikan untuk Atasi Perubahan Iklim

Bogor, 09 Januari 2015

Diantara pencapaian paling signifikan dalam pembicaraan-pembicaraan iklim PBB, salah satunya adalah mengenai Dana Iklim Hijau (GCF). Dana ini dimaksudkan untuk menjadi saluran dana utama dalam membantu negara-negara miskin untuk bertindak mengatasi perubahan iklim dan menanggulangi dampak-dampaknya.

Dengan janji Norwegia Jumat (5/12) untuk memberikan US$258 juta, dana tersebut telah menerima janji $10 miliar, dan diperkirakan akan mulai mempertimbangkan proyek-proyek yang akan didanai tahun depan. Namun para dewan yang beranggotakan 24 negara, pertama-tama harus mengadopsi beberapa aturan mengenai proyek mana yang harus didanai.

Berikut adalah beberapa negara para penyumbang, dari negara miskin dan kaya:

Amerika Serikat: $3 miliar. Gedung Putih mengatakan "bagian signifikan" seharusnya mendukung aktivitas-aktivitas sektor swasta dan dana-dana "berdasarkan kemajuan" GCF.

Jepang: $1,5 miliar. Kelompok-kelompok lingkungan hidup menduga Jepang ingin dana tersebut mengizinkan pengadaan teknologi-teknologi bahan bakar fosil, termasuk pembangkit listrik tenaga batu bara modern. Delegasi-delegasi Jepang di Lima mengatakan, Jumat, bahwa Jepang belum mengadopsi posisi apa pun. Sebuah laporan dari Associated Press, Senin, menunjukkan bahwa Jepang telah menggunakan sekitar $1 miliar dana iklim untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia.

Inggris: $1,2 miliar. Inggris mengatakan ingin menyumbangkan sebagian dari dana adaptasi ini untuk negara-negara yang paling rentan. Perancis: $1 miliar, yang merupakan gabungan dari hibah dan pinjaman lunak.

Swedia: $550 juta, yang paling besar mengingat jumlah penduduk Swedia. Australia: $ 0. Australia mengatakan akan terus membayar untuk adaptasi perubahan iklim di negara-negara rentan melalui anggaran bantuan, bukannya GCF. Korea Selatan: $100 juta. Negara maju pertama yang menjanjikan dana dan merupakan tuan rumah kantor pusat GCF.

China: $ 0. Negara terpadat di dunia dan penyumbang polusi karbon tertinggi belum memberikan sumbangan. Namun kepala tim negosiasi China dalam konferensi iklim PBB di Lima pada Kamis lalu mendesak semua negara maju, termasuk Australia melakukannya. Mongolia: $50.000. Mungkin ini hanya jumlah simbolis, akan tetapi ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat berkontribusi, tidak hanya negara kaya. PDB Mongolia per kapita bahkan tidak mencapai seperlima PDB Amerika Serikat.

 

Sumber: voaindonesia.com (081214)

 

-AY-