Presiden Jokowi Tekankan Komitmen Lingkungan Hidup dengan Norwegia

Bogor, 27 April 2015

Presiden Joko Widodo telah meyakinkan Norwegia bahwa ia memiliki komitmen yang sama terhadap lingkungan hidup seperti pendahulunya, menurut Perdana Menteri Norwegia pada kantor berita Reuters. Diketahui bahwa Norwegia telah menjanjikan dana bantuan hingga US$1 miliar untuk membantu melestarikan hutan-hutan Indonesia.

Tak lama setelah menjabat Oktober lalu, Presiden Jokowi membubarkan Badan Pengelola Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (BP REDD+), kemudian menggabungkannya dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kebijakan tersebut menimbulkan keprihatinan dari para aktivis lingkungan hidup bahwa Indonesia mungkin mundur dari perjanjian iklim dengan Norwegia, yang ditandatangani pada 2010 oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kami juga telah sedikit gelisah mengenai apakah pemerintahan yang baru akan maju dengan kecepatan yang sama dengan pemerintahan lama. Saya kira mereka sudah kembali ke jalurnya, "ujar Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, dalam wawancara Selasa malam (14/4) usai bertemu Presiden Jokowi di Jakarta.

Indonesia memberlakukan moratorium sementara penebangan hutan sebagai bagian dari perjanjian dengan Norwegia. Seorang pejabat pemerintah mengatakan bahwa awal bulan ini pemerintahan Jokowi akan memperpanjang larangan tersebut.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Indonesia akan menerima pembayaran berdasarkan jumlah deforestasi yang berkurang. Namun kelompok-kelompok lingkungan hidup mengatakan penebangan hutan telah meningkat akibat ekspansi dalam pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.

"Kita telah menjadi lebih realistis mengenai seberapa cepat hasil-hasil yang bisa dicapai," ujar Solberg. Dia juga menambahkan bahwa Indonesia perlu "perubahan budaya" agar berhasil mengekang deforestasi.

 

Sumber: voaindonesia.com (16042015)

 

-AY-