Blue Carbon, Harapan Baru untuk Kurangi Emisi

Bogor, 9 Agustus 2016

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Alongi, et al., (2016) mencatat bahwa, padang lamun dan mangrove di Indonesia menyimpan 3,4 Pg C, atau sekitar 17% dari simpanan karbon biru dunia. Namun sayangnya, ekosistem pesisir ini kurang diperhatikan dan tingkat kerusakannya relatif cukup tinggi.

Indonesia memiliki 22,6% dari total hutan mangrove yang ada di dunia (Miteva, Murray dan Pattanayak, 2015). Papua Barat merupakan Provinsi yang memiliki hutan mangrove terluas (70%) dari seluruh hutan mangrove di Indonesia.

Sejak tahun 2014, Conservation International (CI) Indonesia bersama mitra telah melakukan inisiatif blue carbon di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat yang memiliki luas hutan mangrove sebesar 50.575,52 ha. Inisiatif ini merupakan upaya untuk mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat serta mengintegrasikan blue carbon dalam kebijakan dan keputusan pengelolaan untuk pendanaan berkelanjutan kawasan konservasi perairan di Kaimana. Inisiatif ini sekaligus mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim. CI Indonesia juga melakukan kajian stok karbon di Teluk Arguni, Kaimana sebagai dasar referensi ilmiah dalam perancangan program.

"Kajian stok karbon yang dilakukan di Teluk Arguni pada tahun 2016 mencatat rata-rata simpanan karbon sebesar 717 Mg C per hektar, atau setara dengan 2.631 Mg CO2 per hektar. Jumlah karbon yang disimpan di dalam kawasan ini setara dengan penggunaan 1.120.671 liter bensin, 34,8 truk tangki bensin, dan 1.281.849 kg pembakaran batu bara. Temuan ini menegaskan bahwa pentingnya upaya pelestarian kawasan pesisir termasuk mangrove," kata Victor Nikijuluw, Direktur Marine Program CI Indonesia.

Victor Nikijuluw menambahkan bahwa CI Indonesia melakukan inisiatif ini di berbagai tingkat, mulai dari kabupaten hingga nasional. Di Kabupaten Kaimana, CI Indonesia mendukung Pemerintah setempat dalam meningkatkan jumlah area konservasi mangrove dengan mendukung mata pencaharian masyarakat, misalnya melalui budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan. Sedangkan di tingkat nasional, CI Indonesia mendukung inisiatif pengembangan blue carbon bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut - KKP, Andi Rusandi, menyambut positif inisiatif blue carbon yang dilakukan tersebut. Pihaknya berharap agar rancangan program inisiatif blue carbon tidak hanya menyasar pengurangan emisi namun juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Beliau juga mengharapkan bahwa "kesuksesan inisiatif blue carbon ini dapat direplikasi dan diadopsi ke kawasan lain di Papua Barat maupun wilayah lain di Indonesia untuk mendukung pelestarian alam sekaligus komitmen Pemerintah dalam penurunan emisi," tutupnya.

 

Sumber: hijauku.com (260716 - Ditulis oleh Rony Megawanto - Marine Policy Manager, Conservation International Indonesia)

 

-AY-