Petaka Perubahan Iklim

Bogor, 7 Juli 2008

Efek domino dari pemanasan global terus bergulir. Dalam loka karya Media 21 Global Journalism Network yang diselenggarakan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dengan tema “Perubahan Iklim III: Dampak Terhadap Kawasan Pantai dan Negara Kepulauan” terungkap bahwa hampir 90 % bencana di dunia ini terjadi akibat efek perubahan iklim. “Bencana banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi dan menewaskan ribuan orang dari berbagai negara setiap tahun” kata Michel Jarraud, Sekjend WMO. Bencana banjir, lanjutnya, terjadi karena curah hujan ekstrem akibat gangguan cuaca, seperti siklon tropis. Perhatian WMO kini, selain pada persoalan iklim dan cuaca, juga pada persoalan air atau hidrologi.

Dampak lain adalah kekeringan yang mengancam keamanan pangan dunia. Pada dasarnya, fenomena perubahan iklim menimbulkan curah hujan ekstrem dalam waktu makin singkat, kemudian menjadikan masa kekeringan makin panjang. Ketidakpastian alam menjadi semakin tinggi.Bahaya kelaparan kini mengancam, akibat kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan produktivitas tanaman pangan akan semakin menurun. Kepala Divisi Meteorologi Pertanian WMO Mannava Sivakumar mengatakan, bahaya kelaparan saat ini mengancam 800 juta penduduk dunia. Dari jumlah itu, 170 juta orang berusia di bawah lima tahun. Artinya, kini banyak kasus gizi buruk yang merusak harapan bagi generasi mendatang.

Fakta-fakta di atas makin menambah daftar panjang petaka yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Sebelumnya, pada April 2008 lalu, WHO mengeluarkan fakta bahwa perubahan iklim juga meningkatkan persentase kematian akibat malaria dan demam berdarah. Tercatat 100.000 kematian tiap tahunnya akibat malaria dan 50 juta kasus demam berdarah.

Menurut Shigeru Omi, kepala Kantor WHO Pasifik Barat, lonjakan nyamuk malaria itu, merupakan indikasi bahwa pemanasan global memengaruhi kesehatan manusia. Apalagi, nyamuk-nyamuk itu juga ditemukan di daerah beriklim dingin seperti Korea Selatan (Korsel). Nyamuk malaria juga ditemukan di dataran tinggi Papua New Guinea. Celakanya, cuaca hangat mempersingkat siklus pertumbuhan nyamuk. Akibatnya, mereka beranak-pinak dengan cepat dan melahirkan ancaman lebih besar.Perubahan iklim, lanjutnya, juga bisa meningkatkan permukaan laut, sungai-sungai mengering, dan pola cuaca menjadi tidak menentu. “Banjir, kekeringan, dan gelombang panas sangat memengaruhi kesehatan manusia,” katanya.

Entah petaka apalagi yang akan masuk daftar tunggu untuk menghantui manusia akibat perubahan iklim. Kalau hanya diam, bukan tidak mungkin daftar tersebut akan bertambah panjang.

Sumber : Kompas.com (250608) dan Minangkabau News.com (080408)

-YA-